|
![]() Penulis : Meidya Derni Jika dibandingkan dengan usia pernikahan yang telah mencapai 25 (perak) atau 50 tahun (emas), 11 tahun menikah hanya segelintir waktu yang telah dilalui. Masih panjang perjalanan dalam memahami, mengerti dan mengenal pribadi masing-masing pasangan suami istri. Namun dalam 11 tahun pernikahan itu tentu banyak pernak pernik yang telah terjadi dan itulah yang dituliskan Meidya Derni dalam bukunya Catatan Cinta Sang Istri. Ketika membaca buku ini, mungkin Anda (suami/istri) merasa bahwa apa yang ditulis Meidya Derni dialami juga oleh yang lainnya dan membenarkan apa yang tertulis. Bagaimana istri berharap pujian atas masakan yang telah dibuat dengan bersusah payah, sementara Anda baru dalam tahap belajar memasak, dan begitu disuguhkan sang suami hanya memakannya sedikit karena sibuk dengan pekerjaannya demi rejeki yang akan ditabung dan tidak berkomentar apa-apa atas hasil masakan itu. Sakit bukan ? Atau ketika Anda berulang tahun suami berjanji akan mengajak Anda makan malam di restoran bagus ala "candle light dinner", namun karena kesibukan bekerja suami lupa dan menyalahkan Anda kenapa tidak menelepon untuk mengingatkan janji tersebut ? Seperti yang dituliskan Meidya, saat menikah, wanita berpikir dia akan mengubah kepribadian suami yang tidak dia sukai. Sedangkan pria, saat menikah, berpikir wanita tidak akan pernah berubah, dari awal perkenalan hingga selama dalam pernikahan. Mengenal atau tidak pasangannya, ternyata menikah itu seperti duduk di bangku roller coaster yang panjang, bergerak lincah tanpa tahu kapan akan berhenti. Jungkir balik, naik turun, kadang-kadang cepat dan kadang-kadang juga melambat.(hal.viii) Buku ini menarik karena ditulis dengan gaya diari, berdasarkan pengalamannya sendiri. Bahasanya jelas, mudah dimengerti dan yang utama buku ini tidak memberikan kesan menggurui. Sebagaimana dituliskan Meidya, sampai saat ini pun ia masih berproses untuk memahami, mengerti dan mengenal lebih dalam suaminya. Dan untuk itu diperlukan berpikiran positif, menghormati dan menerima perbedaan, serta menumbuhkan rasa pengertian. Tentang Penulis : Meidya Derni terlahir di Bandar Lampung pada tanggal 17 Mei. Anak keempat dari tujuh bersaudara. Masa kecilnya selain berada dalam asuhan kedua orang tuanya, Meidya juga diasuh oleh nenek tercinta. Dari sang nenek pula ia diajarkan untuk rajin menulis, termasuk menulis pantun bersambung dan menulis catatan harian. Diusia 25 tahun, ia menikah dengan Nurhidajat, dan saat ini telah menjadi seorang ibu dari dua orang anak, Salsabil Chasia dan Rais Altari. Meidya juga menjadi guru pre-school, moderator milis kewanitaan, aktif di organisasi kepenulisan, organisasi kewanitaan internasional. Saat ini, bersama keluarganya, ia bermukim di Mobile, Alabama, USA. Ia dapat dihubungi di derni@ji-indonesia.com atau mderni@gmail.com. |
| Leave a Comment: |