Indahjuli Sibarani
perempuan biasa yang mencoba menjadi ibu yang membanggakan bagi anak-anaknya.
   

<< September 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


 
Sunday, May 10, 2009
Dalam Air Mata Kugapai Cinta-Mu

Judul  : Dari Balik Dinding (Bernama) Luka
Penulis  : Nita Candra dan Dian Ibung
Editor  : Azzura Dayana
Layout  : Novi Khansa'Kreatif
Desain sampul : Tri Widyamaka
Penerbit : PT Lingkar Pena Kreativa
Ukuran  : 20,5 cm
Tebal  : 200 halaman 
Kategori : Non Fiksi/Inspirasional
Terbit  : Oktober 2008

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dapat terjadi pada siapa saja, tidak mengenal jenis kelamin, usia, pendidikan atau latar belakang sosial. KDRT tidak hanya berupa kekerasan fisik yang mengakibatkan cedera pada korbannya, tetapi bisa juga berupa kekerasan psikis yang meninggalkan luka batin yang bisa sangat sulit disembuhkan pada korbannya.

Buku yang berjudul Dari Balik Dinding (Bernama) Luka, yang ditulis oleh Nita Candra dan Dian Ibung ini, bercerita tentang perjuangan para korban KDRT untuk keluar dari penderitaan dan bangkit memulai hidup baru yang lebih aman, nyaman dan tentram.

Tidak seperti beberapa buku referensi yang menuliskan kisah dengan data-data yang tak jarang malah membuat pembacanya harus berpikir keras untuk memahami tulisan tersebut, kisah-kisah yang disajikan dalam buku ini sederhana, mudah dipahami dan langsung ke pokok permasalahan. Selain itu, tidak harus korban sendiri yang bercerita, tetapi bisa juga orang lain, bisa sahabat atau pun orang lain yang mengamati kasus KDRT itu.

Kisah-kisah tragis yang dituliskan tidak memerlukan berlembar-lembar halaman, untuk meraih simpati pembaca. Kisah tragis tidak harus mengucurkan berember-ember air mata kan ? Seperti yang diungkapkan kedua penulisnya didalam sinopsis bukunya : Buku ini penting, bukan hanya bagi mereka yang dirundung duka dalam rumah tangga, tapi bagi kita semua untuk mengenali tindak KDRT yang menimpa teman, saudara, atau mungkin diri kita sendiri.


Posted at 11:04 am by Indahjuli Sibarani
Make a comment  

 
Monday, May 04, 2009
Gokil Dad : Diarinya Bapak Keren

 

Penulis  : Iwok Abqary
Penyunting : Tka
Penerbit : Gradien Mediatama
Ukuran  : 13 x 19 cm
Tebal  : 160 halaman 
Kategori : Nonfiksi/Inspirasional/Komedi
Terbit  : Maret 2009

Buku ini termasuk dalam personal literatur (Pelit), genre baru dalam dunia perbukuan. Kekuatan buku bergenre personal literaturvterletak pada materi dan cara bertutur penulis. Dan hal itulah yang ditemukan pada buku Gokil Dad ini. Penulis bertutur dengan gaya komedi atau yang dalam bahasa gaul disebut "ngocol". Penulis buku ini sendiri sudah terkenal dengan buku-buku fiksi komedinya seperti Suster Nengok, Pulau Huntu, Tikil, dan lain-lain.

Setelah membaca buku ini, bisa ditarik kesimpulan cerita-cerita yang disajikan terbagi dalam dua kategori : cerita yang benar-benar lucu dan cerita yang tidak lucu. Cerita yang benar-benar lucu, misalnya cerita yang kejadiannya memang lucu dan dituliskan dengan gaya komedi sehingga saat membaca membuat kita tertawa tergelak. Coba saja baca cerita tentang saat penulis salah memilih kuping saat mengadzani putri pertamanya atau cerita tentang misteri popok yang hilang. Dan kebingungan Iwok ketika disuruh memperbaiki listrik rumah mertuanya, yang mengakibatkannya harus kehilangan uang Rp 50 ribu untuk membeli 2 unit sekering.

Lalu bagaimana dengan cerita yang tidak lucu ? Cerita yang tidak lucu ini adalah cerita yang juga dialami banyak orang, hal yang biasa terjadi, namun lewat gaya bertutur Iwok Abqary, cerita biasa dan tidak lucu itu menjadi cerita yang menarik dan lucu membuat pembacanya tersenyum. Misalnya saja, tidak semua laki-laki yang memiliki kendaraan peduli dengan kendaraannya, tapi tidak semua sekonyol Iwok yang mempunyai motto yang penting masih bisa dipakai dan jalan, tancap terus!

Buku yang benar-benar menghibur, ringan dan tidak perlu mengerutkan kening untuk membacanya. Apalagi jika melihat cover buku yang dikemas menarik. Buat para pria yang terinspirasi menuliskan pengalamannya sebagai suami dan ayah, bisa menjadikan buku ini sebagai referensi.


Posted at 03:01 pm by Indahjuli Sibarani
Make a comment  

 
Monday, April 27, 2009
Catatan Cinta Sang Istri

Penulis  : Meidya Derni
Penyunting : Azzura Dayana
Penerbit : PT Lingkar Pena Kreativa
Ukuran  : 20,5 cm
Tebal  : 198 halaman 
Kategori : Non Fiksi/Inspirasional
Terbit  : Januari 2009

Jika dibandingkan dengan usia pernikahan yang telah mencapai 25 (perak) atau 50 tahun (emas), 11 tahun menikah hanya segelintir waktu yang telah dilalui. Masih panjang perjalanan dalam memahami, mengerti dan mengenal pribadi masing-masing pasangan suami istri. Namun dalam 11 tahun pernikahan itu tentu banyak pernak pernik yang telah terjadi dan itulah yang dituliskan Meidya Derni dalam bukunya Catatan Cinta Sang Istri.

Ketika membaca buku ini, mungkin Anda (suami/istri) merasa bahwa apa yang ditulis Meidya Derni dialami juga oleh yang lainnya dan membenarkan apa yang tertulis. Bagaimana istri berharap pujian atas masakan yang telah dibuat dengan bersusah payah, sementara Anda baru dalam tahap belajar memasak, dan begitu disuguhkan sang suami hanya memakannya sedikit karena sibuk dengan pekerjaannya demi rejeki yang akan ditabung dan tidak berkomentar apa-apa atas hasil masakan itu. Sakit bukan ?

Atau ketika Anda berulang tahun suami berjanji akan mengajak Anda makan malam di restoran bagus ala "candle light dinner", namun karena kesibukan bekerja suami lupa dan menyalahkan Anda kenapa tidak menelepon untuk mengingatkan janji tersebut ? Seperti yang dituliskan Meidya, saat menikah, wanita berpikir dia akan mengubah kepribadian suami yang tidak dia sukai. Sedangkan pria, saat menikah, berpikir wanita tidak akan pernah berubah, dari awal perkenalan hingga selama dalam pernikahan. 
Apalagi sebelum memutuskan menikah mereka telah melalui masa perkenalan atau istilahnya berpacaran, yang tidak hanya memakan waktu setahun atau dua tahun, bahkan bisa bertahun-tahun. Bayangkan ketika Anda ada di posisi Meidya Derni, yang menikah dengan pria tanpa proses berpacaran. "Berbeda dengan perempuan lain, yang sudah mengenal calon suaminya, saya sama sekali tidak mengenal calon suami saya sebelumnya."(hal.5). 

Mengenal atau tidak pasangannya, ternyata menikah itu seperti duduk di bangku roller coaster yang panjang, bergerak lincah tanpa tahu kapan akan berhenti. Jungkir balik, naik turun, kadang-kadang cepat dan kadang-kadang juga melambat.(hal.viii)

Buku ini menarik karena ditulis dengan gaya diari, berdasarkan pengalamannya sendiri. Bahasanya jelas, mudah dimengerti dan yang utama buku ini tidak memberikan kesan menggurui. Sebagaimana dituliskan Meidya, sampai saat ini pun ia masih berproses untuk memahami, mengerti dan mengenal lebih dalam suaminya. Dan untuk itu diperlukan berpikiran positif, menghormati dan menerima perbedaan, serta menumbuhkan rasa pengertian.

Tentang Penulis :

Meidya Derni terlahir di Bandar Lampung pada tanggal 17 Mei. Anak keempat dari tujuh bersaudara. Masa kecilnya selain berada dalam asuhan kedua orang tuanya, Meidya juga diasuh oleh nenek tercinta. Dari sang nenek pula ia diajarkan untuk rajin menulis, termasuk menulis pantun bersambung dan menulis catatan harian.

Diusia 25 tahun, ia menikah dengan Nurhidajat, dan saat ini telah menjadi seorang ibu dari dua orang anak, Salsabil Chasia dan Rais Altari. Meidya juga menjadi guru pre-school, moderator milis kewanitaan, aktif di organisasi kepenulisan, organisasi kewanitaan internasional. Saat ini, bersama keluarganya, ia bermukim di Mobile, Alabama, USA. Ia dapat dihubungi di derni@ji-indonesia.com atau mderni@gmail.com.


Posted at 02:58 pm by Indahjuli Sibarani
Make a comment  

 
Monday, April 20, 2009
Tuan Lokomotif dan dongeng-dongeng lain

 

 

Penulis : Renny Yaniar
Ilustrasi : Suwandi Affandi
Warna : Aria Nindita
Desain : Heri Cahyadi
Penerbit : Pustakan Riang
Tebal : 64 halaman
Kategori : Buku Cerita Anak/Dongeng

Renny Yaniar, adalah nama yang terkenal sebagai penulis cerita anak. Namanya merupakan jaminan mutu untuk cerita-cerita yang ditulisnya. Sampai saat ini ia sudah menulis sekitar 275 cerita berupa cerpen, dongeng, cergam dan komik. Semua itu dimuat di Majalah Bobo, Ananda, Suara Pembangunan, Bocil, Mombi, dan Kompas Anak. Sampai saat ini, Renny sudah menulis 32 buku cerita bergambar dan satu novel. Pada bulan Juni 2002, salah satu bukunya yang berjudul Lautan Susu Coklat, meraih juara pertama Adikarya IKAPI untuk kategori cerita anak.

Meski sudah terkenal sebagai penulis produktif, Renny Yaniar tidak ragu-ragu untuk memberikan buku gratis bagi anak Indonesia. Setelah buku cerita anak "Perjalanan Para Lobster", buku yang tidak diperjual belikan di toko adalah Tuan Lokomotif dan dongeng-dongeng lain.

Buku ini memuat 5 dongeng yang isi ceritanya sangat menarik, seperti Tuan Lokomotif, Penjual Buah dan Wanita Tua, Pak Arief dan Pak Abu, Lula Ular Penyabar, dan Tujuh Lembar Daun Ajaib.

Meski ceritanya sederhana dengan gaya bahasa yang mudah dicerna, namun setiap cerita mengandung pesan-pesan moral. Seperti misalnya cerita yang berjudul Tuan Lokomotif, berkisah tentang seorang Pangeran Kianta dari Negeri Bila-Bila, yang gemar merokok yang mengakibatkan dirinya dijauhi rakyatnya, wajahnya tak tampan lagi, dan kesehatannya terganggu. Atau cerita tentang penjual buah bernama Lingga yang karena bersikap sombong terhadap pembelinya membuat dagangannya tidak laku. Pesan moral yang disampaikan disini adalah, jika kita bersikap tidak peduli terhadap orang lain maka akan merugikan diri sendiri.

Buku yang ditujukan kepada anak-anak ini, bisa juga dibaca oleh pembaca dewasa, terutama bagi pembaca dewasa yang telah memiliki anak, karena dengan membacakan cerita-cerita anak ini bisa mendekatkan hubungan antara orang tua dengan anaknya.


Posted at 02:55 pm by Indahjuli Sibarani
Make a comment  

 
Monday, April 06, 2009
Mimpi Sang Garuda
 
 

 Penulis  : Benny Rhamdani
Penerbit : DAR! Mizan
Desain Sampul : Mendiola Design Associates
Ukuran  : 19,5 cm
Tebal  : 128 halaman 
Kategori : Fiksi/Novel Anak
Terbit  : Maret 2009

Novel anak ini bercerita tentang mimpi meraih cita-cita. Cita-cita menjadi pemain sepakbola. Dengan kepiawaiannya sebagai penulis cerita anak dan peraih Adikarya Ikapi 2007, Benny Rhamdani sang penulis, menceritakan mimpi Bayu, tokoh utama dalam novel ini, dengan gaya bahasa yang lugas, riang khas anak-anak, mudah dipahami dan pesan moral yang disampaikan tidak terkesan menggurui.

Novel yang merupakan buku pertama dari Trilogi Garuda di Dadaku ini juga merupakan novel prekuel dari Film Garuda di Dadaku yang akan diluncurkan pada Juni 2008. Selain itu, tema yang diambil novel anak ini berbeda dari cerita anak yang banyak beredar, yaitu berlatar belakang sepakbola, olah raga yang sangat populer di dunia.

Diceritakan bagaimana Bayu, sangat menyukai sepakbola sebagaimana bapaknya, Bang Ali yang pernah menjadi pemain sepakbola nasional. Tiada hari tanpa bermain bola, begitulah keseharian Bayu yang mendapat nama julukan Garuda. Bahkan akibat kegemarannya bermain sepakbola, Bayu mendapat hadiah sepatu sepakbola keren idaman hatinya, karena berhasil menggagalkan pencurian di rumah Dokter Darman, tetangga rumahnya.

Tapi sayang, sepakbola ternyata olah raga yang dibenci Pak Usman, kakek Bayu. Kakek Usman, yang di masa pensiunnya memutuskan untuk tinggal bersama keluarga anaknya di Jakarta, lebih senang Bayu menjadi pegawai (kalau bisa pegawai Pertamina seperti Kakek Usman), karena menjadi pegawai bisa "sugih" (kaya,red) ketimbang menjadi pemain sepakbola yang nasibnya bisa berakhir morat marit kalau sudah tidak terpakai lagi, seperti nasib Bapak Bayu, Bang Ali, yang terpaksa menjadi sopir taksi setelah menderita cedera paha yang berkepanjangan.

Rasanya kurang lengkap suatu cerita tanpa konflik. Konflik serupa yang dialami bapaknya pun menimpa Bayu. Ia terpaksa main kucing-kucingan dengan kakek, jika ingin bermain sepakbola. Puncak konflik terjadi ketika Bayu kehilangan sepatu bola kesayangannya. 

Tidak hanya bercerita tentang sepakbola, novel ini juga menyelipkan kisah persahabatan Bayu dengan beberapa temannya. Persahabatan yang indah meski banyak perbedaan yang tak jarang menimbulkan pertengkaran. Tak kalah menarik adalah cerita tentang kehilangan orang yang disayangi. Lewat tokoh Ibu Bayu, diceritakan bagaimana tegarnya menghadapi rasa kehilangan itu. Meski berat, tetap harus sabar dan ikhlas. Tak usah terlalu menampakkan kesedihan, karena itu menunjukkan betapa lemahnya hati kita.(hal.115)

Bagi pecinta buku anak, novel Mimpi Sang Garuda ini layak dimiliki dan bagi calon penulis bacaan anak, novel ini bisa menjadi buku pelajaran untuk menulis cerita anak yang menarik.


Posted at 03:52 pm by Indahjuli Sibarani
Make a comment  

 
Monday, March 16, 2009
IKIL : Kami Antar, Kami Nyasar
 

Penulis : Iwok Abqary
Penerbit: Gagas Media
Ukuran : 11.5 x 19 cm
Tebal : vi+206 hal
Kategori: Fiksi/Komedi Cinta
Terbit : Desember 2008
Harga : Rp 25.000

 TIKIL (Titipan Kilat), perusahaan jasa pengiriman barang yang berdomisili di Kota Tasikmalaya, terancam bakal ditutup karena pendapatan perusahaan yang terus menurun dan kalah bersaing dengan perusahaan pengiriman barang lainnya, yang lebih modern dan pelayanannya bagus.

Dengan maksud mengadakan perbaikan di TIKIL, boss baru pun didatangkan dari kantor pusat, untuk menggantikan boss lama yang memilih untuk pensiun dini ketimbang bertahan lama di perusahaan yang hanya mempunyai 4 orang karyawan, tapi bertabiat aneh bin ajaib itu. Para karyawan itu adalah Lilis, resepsionis merangkap sekretaris, yang lebih senang dipanggil Lili tanpa S, Dasep (kurir yang selalu bernasib sial kalau tidak nabrak yah ditabrak atau nyasar ngak jelas, saat mengantarkan paket kiriman), Mang Dirman (kurir tua), dan Kusmin, sukarelawan dengan tanda jasa dari Dinas Pemadam Kebakaran saat menjadi penyelamat dalam peristiwa kebakaran dirumah Kepala Pemadam Kebakaran).

Boss baru Pak Priyadi atau Pak Pri, tak kalah gilanya (atau jangan-jangan karena ketularan karyawannya yah), bukannya memberikan ide-ide baru untuk perbaikan manajemen TIKIL, malah sibuk dengan kegiatan masak memasaknya sebagai antisipasi kalau TIKIL bangkrut dan dirinya dipecat.

Perusahaan mau bangkrut dengan boss serta karyawan yang super duper gila, bukan hal yang tidak mungkin kalau pada akhirnya perusahaan itu ditutup. Loloskah TIKIL dari kemelut ? Apa yang akan Lilis, Mang Dirman, Dasep dan Kusmin lakukan untuk menyelamatkan diri mereka dari ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) ?

Baca saja novel komedi menyegarkan karya penulis asal Tasikmalaya yang mempunyai nama asli Ridwan Abqary. Dalam novel komedi ini, Iwok tidak hanya mengulas tentang sepak terjang dan perjuangan para karyawan TIKIL dalam mempertahankan ladang rejeki mereka, tapi juga membubuhinya dengan kisah pencarian cinta sang sekretaris Lili tanpa S, kepada supir angkot yang berwajah mirip artis papan atas, Adjie Massaid.


Posted at 03:39 pm by Indahjuli Sibarani
Make a comment  

Next Page