Indahjuli Sibarani
perempuan biasa yang mencoba menjadi ibu yang membanggakan bagi anak-anaknya.
   

<< October 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


 
Tuesday, October 14, 2008
Maximum Ride

School, Out Forever

Sekolah Selesai -- Selamanya

Penulis                 : James Patterson

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Alih Bahasa         : Poppy Damayanti Chusfani

Editor                    : Dini Pandia

Tebal                     : 512 halaman

Ukuran                 : 20 cm

Terbit                    : September 2008

 

Pertempuran antara Pemusnah yang dipimpin Ari (yang diduga telah tewas terbunuh) dengan Max, Fang, Iggy, Gasman, Nudge dan Angel menyebabkan Fang terluka parah dan terpaksa dirawat intensif di rumah sakit. Dan dari sinilah, Max dan “saudara-saudaranya” belajar hidup normal sebagai manusia biasa.

Max terpaksa harus bekerjasama dengan Anne Walker, agen FBI, demi pengobatan Fang. Anne, yang mendapat laporan dari dokter tentang keanehan kawanan mutan manusia burung itu, rupanya telah mendapat berita tentang adanya proyek rekayasa genetika dan tempat yang kerap disebut “Sekolah”.

Kerjasama itu  mengharuskan Max dan saudara-saudaranya tinggal dirumah Anne yang luas. Tidak hanya itu, Anne juga memasukkan Max, Fang, Iggy, Gazzy, Nudge dan Angel ke sekolah, untuk mendapatkan pendidikan sebagaimana anak normal lainnya.

Rumah yang nyaman dan luas, sekolah dan teman-teman baru, merupakan sesuatu yang baru untuk Max dan saudara-saudaranya. Di sekolah, meski Anne meminta mereka untuk tidak mencolok, namun keberadaan Max, Fang, Iggy, Gasman, Nudge dan Angel tetap menarik perhatian teman-teman sekolah mereka. Tak terkecuali Kepala Sekolah yang dijuluki Max sebagai si Pemburu.

Kenyamanan Max dan keluarganya berlaku sebagai manusia normal tak berlangsung lama. Karena Ari tidak tinggal diam dengan kesenangan yang diperoleh para mutan, yang lebih sempurna darinya.  Tak tanggung-tanggung, demi memenuhi ambisinya membunuh Maximun Ride, bekerjasama dengan para Jas Putih dan Jeb, diciptakan mutan lain yang mirip dengan Max.

Di buku kedua ini yang merupakan lanjutan dari Maximun Ride : The Angel Experiment,  James Patterson banyak bercerita tentang kehidupan normal bagi para mutan ini. Bagaimana senangnya mereka tinggal dirumah yang nyaman hingga cerita cinta khas remaja Max dan Fang terhadap teman sekolah mereka. Hal yang sangat manusiawi. Meski mereka tak lupa dengan misi utama mereka, mencari tahu tentang bagaimana mereka menjadi korban para ilmuwan dan siapa keluarga sejati mereka.

James Patterson juga menceritakan bagaimana Ari membenci Max, yang di buku pertama disebut sebagai kakak kandung Ari. Dan usahanya menarik perhatian sang ayah, Jeb, yang dianggapnya lebih sayang kepada Max dan saudara-saudaranya.  

Kalau bisa dibilang, di buku ini James Patterson mengungkapkan bahwa kasih sayang, kebencian dan pengkhianatan,  yang terjadi pada rekayasa genetika itu adalah hal yang normal, karena mereka tetaplah manusia.  Salut buat penerjemahan yang apik, sehingga tak bosan membacanya hingga halaman terakhir.


Posted at 03:32 pm by Indahjuli Sibarani
Make a comment  

 
Tuesday, October 07, 2008
Dulu Aku Tikus atau Sepatu Merah

I Was a Rat or The Scarlet Slippers


Penulis : Phillip Pullman

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Poppy Damayanti Chusfani
Editor : Dini Pandia
Tebal : 256 halaman
Ukuran : 20 cm
Terbit : Desember 2007

Buku ini sudah lama saya baca, tahun 2007 lalu. Udah lama juga jadi draft di blogdrive, mumpung lagi bersih-bersih ditaruh disini aja ah...:-)

Masih ingat cerita Putri Cinderella yang menghadiri pesta pangeran tampan, namun terpaksa pulang tepat jam 12 malam sesuai pesan Peri Baik Hati, yang telah mengubah dirinya dari seorang Upik Abu menjadi putri cantik jelita ? Kisah ini ada hubungan dengan peristiwa itu.

Bob Tua adalah seorang tukang sepatu dan istrinya, Joan, tukang cuci. Suatu hari di malam ketika Joan menulis surat untuk keponakannya dan Bob sedang merapikan hak sepatu mungil berwarna merah tua, kedatangan tamu tak diundang, seorang anak laki-laki berseragam pesuruh yang koyak dan bernoda.

Anak laki-laki yang tak memiliki nama itu tidak ingat siapa tuannya. Yang diingatnya hanya umurnya tiga minggu, punya 2 saudara laki-laki dan 2 saudara perempuan, dan orang tuanya yang tinggal di bawah tanah. Bob dan Joan menganggap anak itu sedang mengalami kesedihan yang mengganggu jiwanya. Mereka pun berinisiatif untuk memelihara anak itu sementara.

Anak laki-laki berseragam pesuruh yang kemudian diberi nama Roger, selain sering menyebut dirinya : “dulu aku tikus”, juga memiliki keanehan lain. Jika makan, ia mencelupkan seluruh wajahnya kedalam mangkuk atau piring. Saat tidur, tumpukan seprai yang ditidurinya tercabik-cabik, isi bantal berhamburan dan bercampur bulu ayam.

Karena Kantor Penemuan Anak, kantor polisi bahkan panti asuhan, tidak ada yang merasa kehilangan anak, Roger kemudian dimasukkan ke sekolah oleh Bob dan Joan, untuk mendapat pendidikan yang layak. Dan masalah pun dimulai.

Tidak membawa pensil (sebab Roger akan memakannya) dan dianggap membuat keributan dalam kelas (sebab ia menjerit ketika seorang murid lainnya, menjepretkan karet gelang ke lehernya), gurunya, Mrs Cribbins akan menghukumnya. Namun Roger malah menggigit jemari Mrs Cribbins, yang kemudian melaporkannya kepada Kepala Sekolah.

Roger mengira dirinya akan diselamatkan oleh Kepala Sekolah. Ketika rotan Kepala Sekolah mulai beraksi untuk menghukumnya, Roger pun melawan. Ia menjerit, menggigit, menendang, dan kemudian kabur dari sekolah.

Roger yang lari ke pasar malah membuat masalah lain, merusakkan kios keju dan menyebabkan dirinya ditangkap polisi. Bob yang malang, ia pun harus membayar kerusakan yang ditimbulkan oleh Roger.

Keanehan Roger rupanya membuat Filsuf Royal tertarik. Ia kemudian mendatangi Bob dan Joan. Dengan dalih akan menolong anak itu, Filsuf Royal membawa Roger ke istana untuk dijadikan bahan penelitian.

Saat Filsuf Royal memberikan pertanyaan untuk bahan penelitian, Roger hanya mampu menjawab nama Raja Henri, Ratu Margareth dan Pangeran Richard, serta perempuan cantik yang akan dinikahi Pangeran Richard, yaitu Putri Aurelia. Namun menurut Roger, namanya adalah Mari Jane. “Didapur, mereka memanggilnya Mari Jane. Aku tahu itu.”(halaman:78)

Filsuf Royal menuliskan hasil penelitiannya terhadap Roger : Gila. Delusi sensor-intelektual, bersifat paranoid. Selera makan yang menjijikkan dan tidak alamiah.(halaman:80) Dan ketika melihat Bluebottle, kucing kesayangan Filsuf Royal, naluri Roger mengatakan ia harus melarikan diri. Nasib pun mengantarkannya kepada pemilik salah satu pertunjukan di pasar malam, Oliver Tapscrew.

Bagaimana nasib Roger ditangan Oliver Tapscrew ? Berhasilkah Bob dan Joan menyelamatkan Roger dari ancaman hukuman pembasmian ? Dan apakah Putri Aurelia mengenali Roger, sebagai salah satu sahabatnya ?

Novel anak terjemahan karya Philip Pullman ini sangat menarik. Tema cerita yang sederhana namun dikemas dengan gaya bahasa yang indah, mudah dicerna dan runtun, membuatnya tak hanya sebagai bahan bacaan anak-anak tetapi juga orang dewasa, yang menyenangi cerita anak.


Posted at 01:06 pm by Indahjuli Sibarani
Make a comment  

 
Tuesday, September 30, 2008
Maximum Ride

The Angel Experiment

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Penulis  : James Patterson
Alih Bahasa : Poppy Damayanti Chusfani
Editor : Dini Pandia
Tebal : 536 halaman
Ukuran : 20 cm

Kategori : Fantasy
Terbit : April 2008
Harga : Rp 66.000

Sudah tahu kan tentang kloning atau rekayasa genetika terhadap hewan ? Bagaimana perasaan Anda saat para ilmuwan yang membuat kloning itu mengumumkan keberhasilannya di televisi atau media cetak dan mempertontonkan hasil kloning tersebut ? Kalau saya, sejujurnya sedih dan miris.

Lalu bagaimana kalau rekayasa genetika itu terjadi pada manusia ? Apakah hasil rekayasa itu mempunyai kelebihan dibandingkan manusia biasa ? Bagaimana perasaan mereka yang menjadi hasil rekayasa genetika itu, seperti manusia biasa jugakah ?

Di novel berjudul Maximum Ride karya James Patterson yang diterjemahkan dengan apik oleh Poppy D. Chusfani, pertanyaan diatas bisa ditemukan jawabannya. Novel setebal 536 halaman ini, bercerita tentang tentang Max, Fang, Iggy, Nudge, Gasman dan Angel, anak-anak hasil rekayasa genetika yang terdiri atas 98 persen manusia dan 2 persen burung, sehingga memiliki sayap dan berkemampuan super.

Siapa yang tidak mau berkemampuan super, apalagi untuk membantu manusia di bumi ini. Tetapi Max, si halus hati dan penyayang, justru merasa kemampuannya yang super itu malah mencelakakan dirinya dan kelima temannya, yang sudah dianggapnya seperti keluarganya sendiri. Apalagi ternyata mereka berenam menjadi incaran Sang Pemusnah, makhluk buas setengah serigala, yang juga hasil rekayasa genetika.

Ketika Angel, yang terkecil diantara mereka dan memiliki kemampuan membaca pikiran orang, berhasil ditangkap Pemusnah, Max dan teman-temannya berusaha menyelamatkannya. Dalam usaha penyelamatan itu, Max sempat menolong seorang gadis bernama Ella yang memiliki seorang ibu berprofesi dokter. Max yang sangat merindukan sesosok seorang ibu, nyaris saja membongkar rahasia jati dirinya karena terkesan dengan sifat keibuan dr Martinez.

Berhasilkah Max, Fang, Iggy, Nudge dan Gasman menyelamatkan Angel ? Ya tentu saja, tetapi keberhasilan itu harus dibayar mahal karena ternyata penangkapan mereka oleh sang Pemusnah didalangi oleh Jeb Batchelder, seorang jas putih, yang sudah dianggap Max dan teman-temannya sebagai ayah kandung mereka sendiri.

Jeblah yang menyelamatkan dan membawa kabur Max, Fang, Iggy, Nudge, Gasman dan Angel, dari kandang tempat mereka tumbuh di dalam lab. Dari Jeb pula, mereka merasakan arti kekeluargaan dan melatih kekuatan super mereka.

Mereka berenam kemudian mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Jeb. Kenapa Jeb mengkhianati mereka bahkan merelakan anak kandungnya sendiri, Ari, menjadi salah seorang dari Pemusnah ?

Ini novel lebih dari 500 halaman pertama yang bisa saya selesaikan membacanya dalam satu setengah hari. Kenapa bisa begitu ? Padahal novel ini bergenre fantasi, yang tidak terlalu saya sukai. Karena cerita di Maximum Ride, temanya sangat manusiawi.

Pembaca akan merasakan keharuan, saat para rekayasa genetika itu ingin mengetahui orang tua kandung mereka dan bagaimana perasaan mereka ternyata orang tua yang mereka impikan itu tidak seperti harapan mereka. Juga keinginan mereka untuk hidup normal, layaknya anak-anak seusia mereka.

Sedikit kekurangan pada buku ini, terdapat pada kover sampul yang kurang menarik dan halaman-halaman yang hanya mencantumkan sedikit kata-kata, yang rasanya tidak perlu dilakukan. Selebihnya, buku ini pantas untuk dibaca dan dijadikan koleksi para kutubuku.


Posted at 12:07 pm by Indahjuli Sibarani
Comment (1)  

 
Monday, September 22, 2008
Winter in Tokyo

Penulis     : Ilana Tan
Penerbit   : Gramedia
Tebal       : 320 halaman
Ukuran     : 20 cm
Kategori   : metropop
Cetakan  : September 2008
Harga     : Rp 40.000

Ini adalah buku ketiga Ilana Tan. Seperti dua novel sebelumnya, Summer in Seoul dan Autumn in Paris, novel terbarunya ini juga menggunakan keadaan cuaca atau musim sebagai judul, yaitu Winter in Tokyo atau kalau dibahasa Indonesiakan "Musim Dingin di Tokyo".

Tidak jauh berbeda dengan novel sebelumnya, dimana tokoh utama perempuannya adalah gadis peranakan (Summer in Seoul -- peranakan Korea Indonesia, Autumn in Paris -- peranakan Indonesia Perancis), Winter in Tokyo bercerita tentang kisah cinta seorang gadis peranakan (Indonesia - Jepang) bernama Ishida Keiko.

Keiko Chan yang bekerja di perpustakaan umum di Shinjuku dan tinggal di salah satu apartemen sederhana di pusat kota Tokyo, terobsesi dengan cinta pertamanya, Kitano Akira. Karena itulah, meski ia sudah berusia 23 tahun, Keiko belum terpikir untuk menjalin hubungan serius dengan seorang pria manapun. Keiko berharap suatu hari nanti ia akan bertemu dengan Akira dan mewujudkan cinta terpendamnya.

Suatu hari, apartemen Keiko yang juga dihuni suami istri Osawa, Keiko, dan kakak beradik Sato Haruka - Sato Tomoyuki, kedatangan penghuni baru, seorang pria bernama Nishimura Kazuto, yang menempati apartemen 201. Kazuto kembali ke Tokyo, setelah 10 tahun menetap di New York, Amerika Serikat, bersama kedua orang tuanya. Kepulangan Kazuto ke Tokyo karena ingin melepaskan diri dari kenangannya terhadap gadis yang dicintainya, yang menikah dengan sahabatnya sendiri.

Hubungan yang akrab antar sesama penghuni apartemen menular kepada Kazuto, yang awalnya tidak ingin terlalu direpotkan dengan kehidupan bertetangga. Bahkan dengan Keiko, pria tampan yang sewaktu tinggal di New York berprofesi sebagai fotografer profesional ini, merasakan kehidupan yang menyenangkan. Keiko sendiri merasa bahwa Kazuto, teman yang bisa diandalkan, meski sempat kesal karena Kazuto mengira ia adalah Naomi, saudara kembar Keiko, seorang model terkenal Jepang, yang mengembangkan karirnya di Amerika Serikat.

Seperti novel bertema percintaan lainnya, bisa ditebak, setelah sebulan menjalin kebersamaan, ada perasaan baru di hati Kazuto dan Keiko. Bahkan Kazuto berencana mengungkapkan perasaannya kepada Keiko, sepulangnya dari bermalam tahun baru di Kyoto, tempat tinggal orang tua Keiko. Namun sayang, Kazuto yang mengalami gegar otak akibat dikeroyok sejumlah preman, lupa akan segala hal yang terjadi selama ia tinggal di Tokyo. Ia bahkan tidak ingat kalau dirinya telah menetap di salah satu apartemen dan mempunyai tetangga yang peduli terhadap dirinya. Yah, suami istri Osawa, Sato Haruka, Sato Tomoyuki dan Keiko, sangat mencemaskan diri Kazuto, yang tidak pernah kembali ke apartemennya, 201, setelah ia mengantarkan Keiko ke stasiun kereta api.

Kazuto pun lupa akan perasaannya terhadap Keiko, apalagi setelah ia tahu bahwa Keiko telah bertemu dengan cinta pertamanya, Kitano Akira, yang telah menjadi seorang dokter dan teman sekelas Kazuto di masa SMP. Kedatangan Iwamoto Yuri, gadis yang dicintai Kazuto, juga membenamkan perasaan Keiko kepada Kazuto. Apalagi kedatangan Yuri ke Tokyo, tidak hanya sekedar urusan pekerjaan tetapi juga meminta Kazuto kembali ke New York, bersamanya.

Di novel ketiganya ini, Ilana Tan semakin piawai membentuk karakter tokoh-tokoh utamanya. Jika dalam dua novel sebelumnya, dipertengahan cerita sudah bisa ditebak alur cerita selanjutnya, di Winter in Tokyo, Ilana mampu mengiring pembacanya untuk membaca tulisannya hingga akhir cerita yang tak terduga. Penuturan tentang lokasi cerita juga menarik, sehingga pembaca setidaknya bisa mengetahui denyut kehidupan masyarakat di Tokyo.

Yang menjadi pertanyaan adalah dimanakah Ilana Tan akan mengambil lokasi cerita untuk novel selanjutnya ? Kemungkinan judul sudah pasti akan mengambil satu musim lagi yaitu Spring. Akankah di New York, sehingga judulnya Spring in New York ? Siapakah yang akan menjadi tokoh selanjutnya, mengingat di antara satu novel dengan novel berikutnya, ada keterkaitan antara tokoh cerita.

 

 

 


Posted at 02:32 pm by Indahjuli Sibarani
Comment (1)  

 
Monday, September 15, 2008
Bangsal 13 B


 

Penulis  :  Jessica Ali
Penyunting : Rani Yulianty dan Studio Siput
Pewajah Sampul : Risyanto
Pewajah Ilustrasi  : Deni J. Yusuf
Pewajah Isi : Tio
Penerbit  : Examedia
Tebal  : 122 halaman + viii
Ukuran  : 11 x 18 cm
Kategori  : Novel Remaja/Scary Books Series
Terbit  : April 2008

Satu lagi buku bernuansa misteri dengan judul nyaris sama dengan film horror besutan sutradara Indonesia yang berjudul Bangsal 13. Mungkin saja penulis buku ini memberi judul ceritanya : Bangsal 13 B, sebagai plesetan dari film tersebut.

Cerita di buku ini berawal dari tersesatnya Nania dan Edieth dalam perjalanan mencari hotel, bakal tempat mereka menginap, sehingga menyebabkan mereka terpaksa menginap di Rumah Sakit Rosita, yang berdiri sejak tahun 1928 (seperti Ikrar Sumpah Pemuda saja yah). Karena rumah sakit itu sudah penuh pasien yang dirawat, mau ngak mau Nania dan Edieth (yang pura-pura menjadi pasien),  menerima ditempatkan di Bangsal 13 B.

Bangsal 13 B ? hihhhhh serem. Nania dan Edieth merasa seperti di film horror, apalagi ketika dokter yang berwajah ganteng seperti actor sinetron, memanggil Suster N untuk mengantarkan keduanya ke tempat Edieth bakal dirawat. Dan ternyata Bangsal 13 B itu memang aneh, seaneh penomoran bangsal itu.

Yang mengalami keanehan akan bangsal itu adalah Edieth, si penggemar lagu dangdut ngak ada matinya dan bercita-cita suatu saat akan menggeser kedudukan penyanyi Elvi Sukaesih, si Ratu Dangdut untuk berkolaborasi dengan si Raja Dangdut Rhoma Irama. Mungkin kalau bertemu dengan suster ngesot, Edieth tidak akan takut karena sudah biasa kan dirumah sakit bertemu suster ? Apalagi suster ngesot sudah sering disebut. Nah, gimana rasanya kalau bertemu dengan Apoteker Ngesot ? Yang jelas Edieth menyesal karena tidak hafal dengan ayat-ayat Al Qur’an.

Sepertinya Edieth menjadi target utama para makhluk halus penghuni rumah sakit tersebut. Para makhluk halus itu terpesona dengan kecantikan dan kelangsingan tubuh Edieth.  Puncaknya setelah membuka ruangan tertutup yang dilarang dibuka, Edieth pun menghilang dari ruang perawatannya, Bangsa 13 B. Nania panik kehilangan sahabatnya tercinta. Namun karena ia bukan orang yang penakut seperti Edieth, dengan gagah berani  dan mengandalkan sepatu hak tingginya, Nania berjuang melawan kekejaman para makhluk halus itu.

Nania berhasil menyelamatkan Edieth, namun harus kembali berjuang karena makhluk halus itu menginginkan nyawa Edieth. Berhasilkah Edieth dan Nania menyelamatkan diri ? Adakah motif utama dari kemunculan para makhluk halus itu ? Buku karya Jessica Ali, penulis buku yang memfavoritkan artis senior Suzanna, sebagai bintang film horror utama, menyajikan cerita misteri yang dikemas dengan gaya penulisan ringan, sehingga pembaca tak perlu mengerutkan keningnya, tetapi dijamin akan tersenyum-senyum (asal jangan keterusan) saat membacanya.

Lagi pula, cerita horor tak perlu horor kan penulisannya ? Dibandingkan dengan cerita horor yang ditulis Stephen King, buku ini berbeda. Stephen King menulis dengan serius, sementara buku ini bisa dibilang bergaya komedi. Cocok sebagai bahan bacaan di akhir pekan Anda sambil ditemani segelas teh dan goring pisang hangat.


Posted at 12:08 pm by Indahjuli Sibarani
Make a comment  

Tuhan Kuatkan Imanku

 
 

Penulis  : Anneke Putrid an Amalia Zahra
Penyunting : Sukron Abdilah dan Doel Wahab
Desain Sampul : The Wahid dan Dodi Rosadi
Penerbit  :  Mizania (DAR Mizan)
Tebal  : 196 halaman
Ukuran  : 19,5 cm
Kategori  : Wanita dan Islam
Terbit  : Agustus 2008

Dari desain sampul, pikiran pertama yang muncul adalah buku ini akan menuliskan tentang perjalanan religious dari bintang film/pemain sinetron Anneke Putri, yang ditengah puncak kariernya memutuskan untuk menggunakan penutup kepala dan berbusana muslimah.

Buku yang ditulis oleh Anneke Putri dan Amalia Zahra ini ternyata tak hanya menuliskan cerita metamorfosisnya Anneke sebagai muslimah, tetapi juga kisah nyata para muslimah yang sebagaimana dikatakan anggota Komisi VIII DPR RI, Hajjah Yoyoh Yusroh, mereka yang senantiasa mendapat cahaya, dalam perjuangan mereka untuk menjadi pribadi istiqamah (untuk dirinya sendiri) dan mustaqimah (untuk orang lain).(halaman:22)

Di bagian Anneke, cerita yang mengharukan adalah ketika Anneke memutuskan menikah dengan Syaeful G. Wathon, pria yang berhasil memikat artis pemeran Emak di Sinetron Keluarga Cemara ini, namun tanpa restu dari Talitha, putri dari pernikahan pertamanya yang gagal. Talitha yang tidak menginginkan Anneke menikah kembali bahkan tidak hadir  disaat pernikahan Anneke dan Syaeful. Dan restu sang buah hati baru dapat diraih Anneke setelah melalui perjalanan panjang yang berujung keikhlasan hati.

Buku ini juga menyelipkan cerita tentang Shamelin, TKW yang melarikan diri dari Apartemen lantai 15 di Malaysia, karena tak tahan dengan perlakuan kejam yang diterimanya dari sang majikan. Bagi Shamelin, jika bukan karena kuasa Allah SWT dan kesabarannya dalam menjalani siksaan karena yakin Allah akan menolongnya, mungkin ia tak akan berani dan nekat menuruni dinding demi dinding untuk memperoleh kemerdekaannya.

Sementara di Mahalnya Cerdas Hati, setelah membacanya kita harus bisa merenungkan bahwa kecantikan, kecerdasan, kekayaan, tak akan berarti apa-apa jika hatinya sempit dan kecil untuk memberikan kasih saying, simpati dan empati kepada sesama manusia terutama kepada kalangan dhuafa dan orang cacat.

Dalam QS Tha Ha (20):130 diterjemahkan : “ Maka bersabarlah kamu atas apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu malam hari dan pada waktu-waktu siang hari, supaya kamu merasa senang”.(hal.162).  Hal ini adalah penguat bagi manusia sebagai ciptaan Sang Khalik dalam mengarungi bahtera kehidupannya, sebagaimana terkisah dalam Ketika Cinta Terbagi, saat sang suami memutuskan untuk menikah kembali dengan mantan kekasihnya semasa SMA, namun sayangnya suami tersebut tidak dapat bersikap adil kepada istri pertamanya. Di bagian akhir, buku setebal  193 halaman ini menyajikan puisi-puisi Anneke Puteri, yang sarat dengan makna dan pujian kepada Allah SWT.


Posted at 12:07 pm by Indahjuli Sibarani
Make a comment  

Previous Page Next Page