Indahjuli Sibarani
perempuan biasa yang mencoba menjadi ibu yang membanggakan bagi anak-anaknya.
   

<< April 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



 
Monday, April 27, 2009
Catatan Cinta Sang Istri

Penulis  : Meidya Derni
Penyunting : Azzura Dayana
Penerbit : PT Lingkar Pena Kreativa
Ukuran  : 20,5 cm
Tebal  : 198 halaman 
Kategori : Non Fiksi/Inspirasional
Terbit  : Januari 2009

Jika dibandingkan dengan usia pernikahan yang telah mencapai 25 (perak) atau 50 tahun (emas), 11 tahun menikah hanya segelintir waktu yang telah dilalui. Masih panjang perjalanan dalam memahami, mengerti dan mengenal pribadi masing-masing pasangan suami istri. Namun dalam 11 tahun pernikahan itu tentu banyak pernak pernik yang telah terjadi dan itulah yang dituliskan Meidya Derni dalam bukunya Catatan Cinta Sang Istri.

Ketika membaca buku ini, mungkin Anda (suami/istri) merasa bahwa apa yang ditulis Meidya Derni dialami juga oleh yang lainnya dan membenarkan apa yang tertulis. Bagaimana istri berharap pujian atas masakan yang telah dibuat dengan bersusah payah, sementara Anda baru dalam tahap belajar memasak, dan begitu disuguhkan sang suami hanya memakannya sedikit karena sibuk dengan pekerjaannya demi rejeki yang akan ditabung dan tidak berkomentar apa-apa atas hasil masakan itu. Sakit bukan ?

Atau ketika Anda berulang tahun suami berjanji akan mengajak Anda makan malam di restoran bagus ala "candle light dinner", namun karena kesibukan bekerja suami lupa dan menyalahkan Anda kenapa tidak menelepon untuk mengingatkan janji tersebut ? Seperti yang dituliskan Meidya, saat menikah, wanita berpikir dia akan mengubah kepribadian suami yang tidak dia sukai. Sedangkan pria, saat menikah, berpikir wanita tidak akan pernah berubah, dari awal perkenalan hingga selama dalam pernikahan. 
Apalagi sebelum memutuskan menikah mereka telah melalui masa perkenalan atau istilahnya berpacaran, yang tidak hanya memakan waktu setahun atau dua tahun, bahkan bisa bertahun-tahun. Bayangkan ketika Anda ada di posisi Meidya Derni, yang menikah dengan pria tanpa proses berpacaran. "Berbeda dengan perempuan lain, yang sudah mengenal calon suaminya, saya sama sekali tidak mengenal calon suami saya sebelumnya."(hal.5). 

Mengenal atau tidak pasangannya, ternyata menikah itu seperti duduk di bangku roller coaster yang panjang, bergerak lincah tanpa tahu kapan akan berhenti. Jungkir balik, naik turun, kadang-kadang cepat dan kadang-kadang juga melambat.(hal.viii)

Buku ini menarik karena ditulis dengan gaya diari, berdasarkan pengalamannya sendiri. Bahasanya jelas, mudah dimengerti dan yang utama buku ini tidak memberikan kesan menggurui. Sebagaimana dituliskan Meidya, sampai saat ini pun ia masih berproses untuk memahami, mengerti dan mengenal lebih dalam suaminya. Dan untuk itu diperlukan berpikiran positif, menghormati dan menerima perbedaan, serta menumbuhkan rasa pengertian.

Tentang Penulis :

Meidya Derni terlahir di Bandar Lampung pada tanggal 17 Mei. Anak keempat dari tujuh bersaudara. Masa kecilnya selain berada dalam asuhan kedua orang tuanya, Meidya juga diasuh oleh nenek tercinta. Dari sang nenek pula ia diajarkan untuk rajin menulis, termasuk menulis pantun bersambung dan menulis catatan harian.

Diusia 25 tahun, ia menikah dengan Nurhidajat, dan saat ini telah menjadi seorang ibu dari dua orang anak, Salsabil Chasia dan Rais Altari. Meidya juga menjadi guru pre-school, moderator milis kewanitaan, aktif di organisasi kepenulisan, organisasi kewanitaan internasional. Saat ini, bersama keluarganya, ia bermukim di Mobile, Alabama, USA. Ia dapat dihubungi di derni@ji-indonesia.com atau mderni@gmail.com.


Posted at 02:58 pm by Indahjuli Sibarani

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry